Lompat ke konten utama
Dewi Batari
Semua kabar
Kegiatan

UNY Dorong Keluarga di Dusun Batur Lebih Cerdas Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Melalui program “Keluarga Cerdas Finansial, Keluarga Sejahtera”, masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, diajak belajar mengelola keuangan rumah tangga dengan cara yang sederhana dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi

Mengelola keuangan keluarga ternyata tidak selalu mudah. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, pengeluaran yang datang tidak terduga, hingga keinginan untuk tetap memiliki tabungan. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam kegiatan edukasi dan pelatihan pengelolaan keuangan rumah tangga yang dilaksanakan di Dusun Batur, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui program “Keluarga Cerdas Finansial, Keluarga Sejahtera”, masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, diajak belajar mengelola keuangan rumah tangga dengan cara yang sederhana dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga diskusi dan praktik yang mengajak peserta menghubungkan materi dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing.
Suasana kegiatan berlangsung cukup cair. Ketika membahas perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, peserta mulai mengaitkannya dengan berbagai pengeluaran yang mereka hadapi di rumah. Pembahasan kemudian berlanjut pada pentingnya menentukan prioritas sebelum menggunakan pendapatan.
Peserta tidak hanya diminta memahami konsep, tetapi juga diajak melihat kembali kebiasaan pengeluaran sehari-hari. Berbagai contoh sederhana digunakan untuk membantu peserta membedakan pengeluaran yang memang menjadi kebutuhan dengan pengeluaran yang masih dapat ditunda.
Pembahasan semakin menarik ketika peserta mulai membicarakan kebiasaan menabung. Ketika dijelaskan mengenai pentingnya menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin, salah seorang ibu justru mengaitkannya dengan pengalaman sehari-hari bersama anak.
“Pengen hemat, Mbak, tapi kalau anak mau jajan terus nangis, ya wes gimana lagi? Nggak tegel, Mbak. Akhirnya ya ndak jadi nabung,” ujar salah seorang ibu sambil tertawa.
Pernyataan tersebut langsung disambut tawa peserta lainnya. Suasana yang semula membahas pengelolaan keuangan menjadi lebih cair. Namun, percakapan sederhana tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mengatur keuangan rumah tangga memang tidak selalu sesederhana membuat perencanaan di atas kertas.
Dari percakapan tersebut, peserta kemudian diajak melihat bahwa pengelolaan keuangan bukan berarti harus menghilangkan seluruh pengeluaran yang bersifat menyenangkan bagi keluarga. Yang lebih penting adalah menentukan prioritas dan membuat batas pengeluaran sesuai dengan kemampuan. “Berarti bukan nggak boleh jajan sama sekali, ya, Mbak?” tanya peserta lainnya.
Diskusi kemudian berlanjut pada cara membuat anggaran yang tetap memberikan ruang bagi kebutuhan anak maupun keluarga, tanpa mengabaikan kebutuhan yang lebih utama seperti tabungan dan dana darurat. Setelah membahas kebutuhan dan keinginan, peserta diajak mempraktikkan penyusunan anggaran rumah tangga. Peserta diberikan format sederhana untuk mencatat pendapatan dan pengeluaran, kemudian mencoba menyesuaikannya dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing.
Praktik tersebut membantu peserta melihat secara lebih jelas ke mana pendapatan rumah tangga digunakan. Peserta juga diajak mengelompokkan pengeluaran berdasarkan prioritas sehingga kebutuhan utama dapat didahulukan sebelum pengeluaran lainnya. Pembahasan kemudian diarahkan pada kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran. Pencatatan sederhana diperkenalkan sebagai langkah awal agar keluarga dapat mengetahui kondisi keuangannya secara lebih nyata, bukan hanya berdasarkan perkiraan.
Selain itu, peserta diajak membahas cara menyisihkan pendapatan untuk tabungan. Menabung tidak ditekankan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dalam jumlah besar, melainkan sebagai kebiasaan yang dapat dimulai dari nominal yang sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga. Kondisi pendapatan yang tidak selalu sama setiap bulan juga menjadi bagian dari diskusi. Peserta diajak memahami bahwa keluarga dengan pendapatan tidak tetap tetap dapat melakukan perencanaan keuangan dengan menyesuaikan pengeluaran terhadap pendapatan yang benar-benar tersedia.
Pembahasan kemudian berlanjut pada dana darurat. Peserta diperkenalkan pada pentingnya memiliki dana yang dipersiapkan khusus untuk menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Dengan adanya dana tersebut, kebutuhan mendesak diharapkan tidak selalu harus diambil dari anggaran kebutuhan rutin.
Materi juga mencakup pemahaman mengenai inflasi dan perubahan nilai uang. Peserta diberikan gambaran sederhana mengenai kenaikan harga barang dari waktu ke waktu serta pengaruhnya terhadap kebutuhan rumah tangga. Pemahaman tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan perencanaan keuangan jangka panjang kepada masyarakat.
Selain menabung, peserta juga diperkenalkan dengan beberapa pilihan pengelolaan dana seperti emas dan deposito. Materi diberikan sebagai wawasan agar masyarakat mengenal alternatif pengelolaan dana dan dapat mempertimbangkan tujuan, kemampuan, serta jangka waktu sebelum menentukan pilihan. Diskusi berlangsung dua arah dengan peserta yang beberapa kali menyampaikan pengalaman mereka dalam mengatur keuangan keluarga. Pengalaman sehari-hari tersebut justru menjadi bagian penting dalam kegiatan karena membuat pembahasan tidak berhenti pada teori, tetapi dekat dengan kondisi yang benar-benar dihadapi masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta kemudian diajak membangun kebiasaan finansial yang sederhana, mulai dari mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas, menyusun anggaran, menyisihkan tabungan, hingga menyiapkan dana untuk kebutuhan yang tidak terduga.
Program “Keluarga Cerdas Finansial, Keluarga Sejahtera” tidak dimaksudkan untuk memberikan satu pola pengelolaan keuangan yang sama bagi seluruh keluarga. Setiap rumah tangga memiliki kondisi pendapatan, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda. Karena itu, peserta didorong untuk menyesuaikan cara pengelolaan keuangan dengan kondisi keluarganya masing-masing. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi ibu-ibu PKK untuk saling bertukar pengalaman. Cerita mengenai kebutuhan anak, pengeluaran rumah tangga, kebiasaan menabung, hingga tantangan mengatur pendapatan menjadi bagian dari diskusi yang membuat kegiatan berlangsung lebih interaktif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan yang interaktif dan berbasis praktik, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi dapat menerapkannya secara mandiri di rumah. Kebiasaan sederhana dalam mencatat dan merencanakan keuangan diharapkan dapat membantu keluarga melihat kondisi keuangannya dengan lebih jelas sekaligus membuat keputusan pengeluaran secara lebih terarah.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kemampuan keluarga dalam mengelola sumber daya ekonomi secara lebih terencana serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi dan keterampilan finansial masyarakat. Penguatan kemampuan ekonomi keluarga juga sejalan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Pada akhirnya, “Keluarga Cerdas Finansial, Keluarga Sejahtera” tidak hanya berbicara mengenai bagaimana uang digunakan, tetapi juga bagaimana keluarga belajar menentukan prioritas dan merencanakan masa depan berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Dari sebuah catatan sederhana tentang pemasukan dan pengeluaran, masyarakat diajak memulai langkah yang lebih besar: membangun kebiasaan finansial yang lebih sadar, terencana, dan sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Bagikan kabar iniWhatsApp

Kabar ini ditulis pengurus Pokdarwis Dewi Batari. Ada yang ingin ditanyakan atau dikoreksi? Hubungi kami lewat kontak di kaki halaman.

Kabar serupa

Lihat semua kabar