Lompat ke konten utama
Dewi Batari

Profil

Batur Berdikari

Batur bukan desa yang dibangun untuk dikunjungi. Dusunnya sudah lebih dulu ada di sini. Warganya yang kemudian memutuskan membuka pintu — dengan syarat yang mereka tentukan sendiri.

Padukuhan
Batur
Kalurahan
Kepuharjo
Kapanewon
Cangkringan
Kabupaten
Sleman
Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta
Kode pos
55583

Bagaimana ini bermula

Baturan

Nama Batur berasal dari kata “Baturan”, yang berarti pondasi bangunan. Penandanya dua batu pintu yang disebut warga “Watu Lawang”, ditemukan sebelum tahun 1920.

Batur ada di Kepuharjo, Cangkringan, di lereng selatan Merapi. Puncaknya kelihatan dari halaman rumah warga. Sedekat itu pula jaraknya setiap kali gunung ini bekerja.

Setelah masa pemulihan yang panjang, warga mulai menata kembali apa yang tersisa: kebun, ternak, dan jalur-jalur yang dulu hanya dipakai sendiri. Dari situ muncul pertanyaan yang jadi awal semuanya — kalau orang luar datang, apa yang sebenarnya ingin kami tunjukkan?

Jawabannya menentukan bentuk desa wisata ini sampai sekarang: yang ditunjukkan adalah kegiatan yang memang berjalan, bukan pertunjukan yang disiapkan. Tamu tidak menonton dari pinggir — mereka ikut turun ke kebun, ikut duduk saat latihan, ikut sarapan di dapur yang sama.

Dusun dalam angka

Disalin dari lembar monografi dan profil dusun. Beberapa angka tercatat berbeda antar dokumen; yang dipakai di sini selalu yang terbaru, dan selisihnya dicatat di kaki halaman.

luas wilayah
107 Ha
ketinggian
540–1.200 mdpl
suhu udara
18–26 °C
curah hujan setahun
2.000–3.000 mm
dari puncak Merapi
± 9 km
bentuk permukaan
Dataran tinggi

Jarak tempuh

ke Kota Yogyakarta
32 km
ke pusat Kabupaten Sleman
28 km
ke Kapanewon Cangkringan
8 km

Jumlah penduduk terakhir yang tercatat di dokumen mana pun adalah 471 jiwa pada Agustus 2014 — 231 laki-laki dan 240 perempuan. Angka itu sudah lebih dari sepuluh tahun dan hampir pasti tidak lagi menggambarkan keadaan sekarang; ia ditulis di sini karena memang satu-satunya yang ada, bukan karena masih berlaku.

Batas wilayah

Utara
Padukuhan Kopeng
Selatan
Padukuhan Pagerjurang dan Kepuh
Timur
Kali Gendol, berbatasan dengan Desa Glagaharjo
Barat
Kali Sriwil, berbatasan dengan Desa Umbulharjo
Lihat di peta desa

Bidang yang tergambar di peta itu perkiraan cakupan, bukan batas administratif yang diukur petugas.

Filosofi

Berdikari

Berdiri di atas kaki sendiri. Nama itu dipilih bukan sebagai semboyan, melainkan sebagai batas: apa pun yang ditawarkan desa ini harus bisa dijalankan warganya sendiri, tanpa bergantung pada pihak luar yang sewaktu-waktu pergi.

Konsekuensinya terlihat di hal-hal kecil. Pemandunya warga, bukan pemandu sewaan. Homestay-nya rumah yang benar-benar dihuni, bukan penginapan yang dibangun untuk itu. Yang dimasak untuk tamu sama dengan yang dimasak untuk keluarga.

Artinya juga ada yang tidak bisa dijanjikan. Kalau sedang panen, sebagian warga ada di kebun. Kalau sedang ada hajatan, jadwal bergeser. Itu bukan kekurangan yang perlu ditutupi — itu tanda bahwa yang dilihat tamu memang kehidupan yang sedang berjalan.

Visi

Menjadi desa wisata yang tumbuh dari kekuatan warganya sendiri, di mana setiap kunjungan meninggalkan manfaat yang tinggal di desa.

Misi

  1. Menyelenggarakan kegiatan wisata yang dijalankan dan dipandu langsung oleh warga Batur.

  2. Memastikan pendapatan dari kunjungan tersebar ke banyak keluarga, bukan terpusat pada segelintir pengelola.

  3. Merawat kebun, jalur, dan bangunan desa sebagai milik bersama yang dipakai sehari-hari, bukan sebagai latar foto.

  4. Menjaga agar kehadiran tamu tidak mengubah cara warga menjalani harinya sendiri.

Tonggak

Disusun dari lembar sejarah dan profil Dusun Batur. Satu entri ditulis sebagai rentang karena dokumennya pun menulisnya begitu.

  1. sebelum 1920

    Dua batu pintu “Watu Lawang” ditemukan — penanda yang kemudian jadi asal nama dusun.

  2. 1945

    Kepala dusun pertama menjabat. Sejak tahun ini Batur tidak pernah terkena dampak besar erupsi Merapi.

  3. 1980

    Pemilihan kepala dusun mulai dilakukan lewat pemilihan umum, menggantikan musyawarah warga.

  4. 1986–1994

    Tidak ada yang menjabat sebagai kepala Dusun Batur.

  5. 1994

    Sistem berubah lagi: kepala dusun ditentukan lewat seleksi pemerintah setempat.

  6. 2010

    Batur menerima 34 kepala keluarga yang direlokasi dari bantaran Kali Gendol setelah erupsi Merapi menghancurkan pemukiman mereka.

Kepala dusun sejak 1945

Dari lembar “Profil Kepala Dusun”: 7 periode kepemimpinan tercatat sejak 1945, dengan satu masa selama 8 tahun tanpa ada yang menjabat. Namanya tidak dicantumkan di sini — menampilkan nama warga di halaman publik perlu persetujuan orangnya masing-masing.

  1. 1945–19505 th
  2. 1950–19555 th
  3. 1955–19605 th
  4. 1960–19666 th
  5. 1966–198014 th
  6. 1980–19866 th
  7. 1986–19948 th
  8. 1994–sekarang32 th

Masa tanpa kepala dusun.

Yang hidup di dusun

Kesenian dan kegiatan yang tercatat di lembar kebudayaan dusun. Sebagiannya berjalan menurut kalender warga sendiri, jadi belum tentu sedang berlangsung saat tamu datang.

Macapat
Tembang Jawa yang dilantunkan bergiliran dalam pertemuan warga.
Jemparingan
Panahan tradisional, dimainkan sambil duduk bersila.
Karawitan
Permainan gamelan yang dilatih warga secara berkelompok.
Bregodo
Pawai prajurit berpakaian adat.
Jathilan
Tarian kuda kepang yang dimainkan berkelompok.
Anggrek Merapi
Merawat dan memperbanyak anggrek, dikumpulkan dari berbagai daerah.

Yang mengurus

Pokdarwis Batur Berdikari dijalankan warga dusun sendiri. Jabatannya dibagi supaya tidak ada satu orang pun yang harus menanggung seluruhnya.

  • Ketua Pokdarwis

    Menghubungkan warga dengan tamu, dan memutuskan kegiatan mana yang siap dibuka untuk kunjungan.

  • Sekretaris

    Mencatat jadwal kunjungan, menyimpan data homestay dan UMKM, serta mengelola isi situs ini.

  • Bendahara

    Mengatur pembagian pendapatan kunjungan ke keluarga-keluarga yang terlibat.

  • Koordinator Pemandu

    Menyiapkan pemandu untuk tiap rombongan dan memastikan jalurnya aman ditempuh hari itu.

  • Koordinator Homestay

    Membagi tamu ke rumah-rumah yang siap menerima, dan memeriksa kesiapannya sebelum kedatangan.

  • Koordinator UMKM

    Mendampingi usaha warga dan mengatur pesanan jumlah besar agar terbagi ke beberapa usaha.

Nama pengurus belum dicantumkan karena menampilkan nama warga di halaman publik perlu persetujuan masing-masing orang.

Dari mana keterangan ini

Angka dan tanggal di halaman ini disalin dari empat dokumen cetak milik dusun, difoto langsung dari lembar aslinya. Keempatnya tidak selalu sepakat; yang ditampilkan selalu yang terbaru, dan selisihnya ditulis di bawah alih-alih dihilangkan.

Dokumen

  1. Data Monografi Padukuhan — keadaan data 2022

    Lembar monografi resmi padukuhan, disusun mengikuti Instruksi Mendagri No. 23 Tahun 1989. Yang paling baru dari keempatnya, dan karena itu yang dipakai setiap kali angkanya berbeda.

  2. Monografi Dusun Batur — keadaan data Agustus 2014

    Lampiran laporan KKN PPM UNY 2014. Satu-satunya dokumen yang mencantumkan luas wilayah.

  3. Profil Dusun Batur — keadaan data Agustus 2014

    Naskah KKN PPM UNY 2014. Paling kaya keterangan naratifnya — radius dari puncak, panjang jalan, dan sungai — tapi sebagian tidak ada di monografi mana pun.

  4. Sejarah Dusun Batur & Kewilayahan — tanpa tahun tercetak

    Lembar sejarah dan kewilayahan dari buku profil dusun. Sumber asal nama, garis waktu, dan daftar kepala dusun.

Di mana dokumennya berbeda

  1. 107 Ha luas wilayah · dipakai dari Monografi Dusun Batur

    Monografi 2022 mengosongkan kolom luas, jadi angka ini dari dokumen 2014 — satu-satunya yang menyebutkannya.

  2. 540–1.200 mdpl ketinggian · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Monografi 2014 menyebut 600–800 mdpl. Selisihnya belum jelas.

  3. 18–26 °C suhu udara · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Dokumen 2014 menyebut 18–23 °C.

  4. 2.000–3.000 mm curah hujan setahun · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Dokumen 2014 menyebut 1.000–2.000 mm.

  5. ± 9 km dari puncak Merapi · dipakai dari Profil Dusun Batur

    Hanya disebut di naskah KKN 2014; tidak ada di monografi mana pun. Dusun ini masuk Kawasan Rawan Bencana.

  6. 32 km ke Kota Yogyakarta · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Dokumen 2014 menyebut 33,5 km.

  7. 28 km ke pusat Kabupaten Sleman · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Dokumen 2014 menyebut 28,5 km.

  8. 8 km ke Kapanewon Cangkringan · dipakai dari Data Monografi Padukuhan

    Ditulis tangan di monografi 2022; dokumen 2014 menyebut 6,5 km. Yang paling tidak pasti dari seluruh angka jarak.

Bertanya lebih jauh

Ada yang ingin ditanyakan tentang desa, atau ingin bekerja sama?

Pokdarwis terbuka untuk peneliti, mahasiswa, jurnalis, dan desa lain yang sedang menyiapkan hal serupa. Tanya saja.

Pesannya sudah terketik, tinggal dikirim. Balasan biasanya di jam kerja — Dewi Batari dikelola pengurus yang juga bertani.