Lompat ke konten utama
Dewi Batari
Semua kabar
Kegiatan

Mahasiswa KKN UNY Susun Booklet Panduan Wisata Digital bagi Desa Wisata Batur Berdikari Cangkringan

ringkasan

Sleman — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Salah satunya diwujudkan di Padukuhan Batur, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, melalui program penyusunan booklet panduan wisata digital bagi Desa Wisata Batur Berdikari atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Batari.

Program tersebut dilaksanakan oleh Edwinda Muhammad Hafidz Nur Arfani Santosa, mahasiswa Program Studi Pariwisata UNY, sebagai program kerja individu dalam rangkaian KKN Kelompok KKNM-32146 yang beranggotakan sepuluh mahasiswa lintas program studi. Kegiatan berlangsung pada 27 Juli sampai 13 September 2026 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Eka Ary Wibawa, M.Pd., dan dikerjakan bersama pengurus desa wisata serta pemilik daya tarik di padukuhan tersebut.

Padukuhan Batur berada di lereng Gunung Merapi dan termasuk kawasan yang terdampak erupsi 2010. Setelah masa pemulihan, warga setempat merintis desa wisata yang resmi berdiri pada 8 Agustus 2022, berangkat dari kerja warga menyelamatkan dan membiakkan tumbuhan langka hingga dusun tersebut dicanangkan sebagai padukuhan konservasi anggrek spesies Nusantara. Potensi yang diangkat antara lain suaka anggrek spesies Nusantara, kegiatan penempelan anggrek bersama warga, jalur susur kebun dan hutan, kegiatan pertanian dan peternakan, serta kesenian yang masih dijalankan seperti jemparingan dan karawitan. Potensi tersebut selama ini dikelola langsung oleh warga tanpa dukungan bahan informasi yang tertata.

Kondisi itu membuat promosi Dewi Batari bertumpu pada percakapan pribadi. Pertanyaan calon wisatawan mengenai titik kumpul, lama kegiatan, biaya, dan jumlah peserta hampir seluruhnya masuk melalui pesan langsung kepada pengurus. Dewi Batari belum memiliki kelompok sadar wisata, sehingga pertanyaan tersebut dijawab satu per satu oleh pengurus desa wisata tanpa rujukan bersama yang dapat dipakai seluruh divisi kepengurusan. Paket wisata yang sudah berjalan pun belum pernah dituangkan ke dalam dokumen tertulis, sehingga keterangan yang diterima calon wisatawan tidak selalu seragam.

Edwinda menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab persoalan tersebut sekaligus meninggalkan bahan yang dapat terus dipakai pengurus setelah masa KKN berakhir.

“Awalnya saya melihat pengurus harus menjelaskan hal yang sama berulang-ulang kepada setiap orang yang bertanya. Padahal keterangannya bisa dihimpun dalam satu berkas yang bisa dibaca sendiri oleh calon wisatawan. Karena itu booklet ini saya susun dari pertanyaan yang paling sering masuk, bukan dari bahan yang kebetulan tersedia. Berkas mentahnya juga saya serahkan supaya pengurus bisa memperbarui sendiri kalau harga atau nomor kontaknya berubah,” ujar Edwinda.

Penyusunan booklet diawali dengan observasi kegiatan desa wisata serta wawancara dengan pengurus dan pemilik daya tarik. Setiap daya tarik kemudian didata menggunakan lembar inventarisasi yang memuat nama pengelola dan kontaknya, letak beserta titik koordinat, aktivitas yang ditawarkan, perkiraan durasi, kisaran biaya, kapasitas peserta, waktu kunjungan yang disarankan, serta catatan keselamatan. Pendataan dikerjakan langsung di lokasi dan disertai pengambilan foto untuk kebutuhan tata letak.

Buku panduan tersebut disusun per bab mengikuti alur perjalanan wisatawan, dimulai dari pengenalan Dewi Batari beserta jejak waktu berdirinya, peta menyusur Batur, daftar daya tarik dan spot wisata, hingga keterangan praktis berupa paket kunjungan beserta kisaran biaya dan ketentuan jumlah peserta, produk yang dapat dibawa pulang, etika berkunjung dan keselamatan, serta kontak pengelola.

Bagian peta orientasi disiapkan untuk menjawab keluhan yang paling sering muncul, yaitu kebingungan menentukan titik mulai kunjungan. Bagian ini memuat peta batas wilayah Padukuhan Batur pada skala 1:8.000 yang disusun tim KKN beserta peta wilayah Kalurahan Kepuharjo pada skala 1:10.000, sehingga pembaca dapat melihat letak dusun di antara Sungai Opak dan Sungai Gendol. Titik koordinat yang terkumpul juga diolah menjadi peta penyusuran yang menandai titik kumpul, lokasi daya tarik, jalur yang dapat dilalui kendaraan roda empat, serta ruas yang hanya nyaman ditempuh dengan berjalan kaki.

Keterangan paling rinci diberikan pada paket wisata konservasi anggrek yang dikelola Warjana, warga setempat yang menjalankan kebun anggrek seorang diri. Di dalam booklet, paket tersebut diuraikan menurut lima tahap pengalaman, mulai dari pengenalan kebun, pembelajaran mengenai jenis dan perawatan anggrek, praktik menanam, membawa pulang hasil praktik berupa Mini Orchid Bottle, hingga pengambilan gambar di titik yang telah disiapkan. Biaya sebesar Rp29.000,00 per peserta dengan jumlah peserta paling sedikit lima orang dicantumkan secara terbuka, disertai catatan bahwa anggrek dalam botol dapat bertahan sekitar tiga bulan sebelum dipindahkan ke media tanam lain.

Warjana menyampaikan bahwa keberadaan keterangan tertulis tersebut membantunya ketika melayani tamu yang datang.

“Selama ini saya menerangkan anggrek dan cara merawatnya secara lisan saja kepada tamu yang datang. Tidak ada catatan apa pun yang bisa saya berikan. Sekarang semuanya sudah tertulis, mulai dari kegiatannya sampai harganya, jadi tamu sudah tahu lebih dahulu apa yang akan mereka kerjakan di kebun,” ungkap Warjana.

Dari sisi tampilan, booklet dirancang pada ukuran A5 posisi potret agar nyaman dibaca di layar ponsel dan tetap rapi bila dicetak terbatas. Perancangan mengikuti identitas visual Dewi Batari yang telah ditetapkan sebelumnya, baik pada pilihan warna maupun jenis huruf, sehingga booklet tampil selaras dengan media promosi desa wisata lainnya. Berkas akhir diekspor ke format PDF dengan gambar terkompresi agar ringan diunduh, mengingat jaringan internet di sebagian titik padukuhan belum stabil.

Sebelum dipublikasikan, naskah dan rancangan diperiksa pengurus desa wisata untuk memastikan ketepatan harga, nama pengelola, dan penulisan nama tempat, kemudian diperiksa Dosen Pembimbing Lapangan pada sisi kelayakan penyajian. Masukan yang diperoleh ditindaklanjuti melalui dua kali perbaikan sebelum booklet dinyatakan siap diunggah.

Buku panduan selanjutnya diterbitkan pada situs web resmi Dewi Batari, dewibatari.com, dan disajikan sebagai buku digital yang dapat dibuka langsung pada laman panduan tanpa biaya. Tautannya disebarkan melalui akun media sosial desa wisata dan disiapkan pula dalam bentuk kode batang dua dimensi agar dapat dicetak terbatas dan dipasang di titik kumpul. Jalur digital dipilih karena biaya cetak dalam jumlah besar belum sanggup ditanggung pengurus, sementara isi booklet memuat data yang cepat berubah seperti harga dan nomor kontak.

Agar program tidak berhenti pada penyerahan produk jadi, berkas sumber yang masih dapat disunting turut diserahkan kepada pengurus bersama panduan singkat mengenai cara mengganti harga, kontak, dan foto. Pengurus juga didorong membagi tanggung jawab pengelolaan isi, khususnya pada pemutakhiran data daya tarik dan penyebaran tautan unduhan, sehingga pembaruan dapat berjalan secara berkala.

Program booklet panduan wisata ini berjalan beriringan dengan program penyusunan peta potensi wisata Dewi Batari yang dikerjakan pada periode yang sama, serta dikoordinasikan dengan pengurus desa wisata dan pemerintah Kalurahan Kepuharjo. Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Eka Ary Wibawa, M.Pd., menilai bahwa penguatan pada sisi informasi merupakan langkah yang dibutuhkan desa wisata rintisan sebelum masuk pada tahap pengembangan produk yang lebih luas.

Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs). Penataan informasi dan paket wisata yang menopang usaha warga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya pada upaya mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang menciptakan lapangan kerja dan mengangkat produk lokal. Pendokumentasian daya tarik, bentang alam, dan keseharian masyarakat lereng Merapi sejalan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui perlindungan warisan alam dan budaya setempat.

Penyediaan keterangan mengenai etika berkunjung, batas kapasitas peserta, dan tata cara kunjungan mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, sedangkan pengangkatan kegiatan konservasi anggrek sebagai muatan utama booklet berkontribusi pada SDG 15: Ekosistem Daratan melalui pengenalan upaya pelestarian tanaman kepada wisatawan. Kerja sama antara perguruan tinggi, pengurus desa wisata, pemilik daya tarik, dan pemerintah kalurahan turut memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui kegiatan ini, UNY menegaskan perannya dalam mendorong mahasiswa menerapkan keilmuannya untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Penyusunan booklet panduan wisata digital yang melibatkan warga sejak penentuan isi hingga pemeriksaan akhir diharapkan menjadi bekal bagi Dewi Batari untuk mengelola informasi kepariwisataannya secara mandiri dan berkelanjutan.

Bagikan kabar iniWhatsApp

Kabar ini ditulis pengurus Pokdarwis Dewi Batari. Ada yang ingin ditanyakan atau dikoreksi? Hubungi kami lewat kontak di kaki halaman.

Kabar serupa

Lihat semua kabar